Sunday, March 10, 2013

SATU GOLONGAN YANG DIPILIH

Firman Allah:

"kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa 
pecahan; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. 
maka biarkanlah mereka berada 

dalam kesesatannya sampai suatu waktu." (QS. Al-Mu'minun:53-54)


Hadits:

Nabi s.a.w. besabda: Ummat yahudi telah pecah menjadi 71 golongan; dan umat 
Nashrani telah terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku (Islam) akan terpecah 
menjadi 73 golongan. Yang selamat dari ke 

tujuh puluh tiga golongan itu yang satu golongan, sedang sisanya celaka." Para 
sahabat bertanya: Wahai Rasulullah siapa golongan yang selamat itu?" beliau 
menjawab: "Ahlussunah wal Jama'ah!" Dikatakan : "Apakah Ahlussunah wal Jama'ah 
itu?" Beliau bersabda: "Apa yang aku berada 

diatasnya sekarang bersama para sahabatku!"

 
firman Allah:

Berpegang teguhlah dengan tali (agama) Allah dalam keadaan berjamaah (bersatu 
dalam jamaah muslim) dan janganlah bercerai berai."(QS:3:103) 
 
Sabda Nabi .s.a.w.:

"Pertolongan Allah itu diberikan kepada  umat yang bersatu dalam satu jamaah, 
maka siapa yang melepaskan diri darai jamaahnya, ia terancam dihukum di neraka 
(HR.Tirmidzi)

 
Umar bin al-Khattab r.a.; berkata:

Islam tidak akan pernah tegak tanpa adanya jamaah (persatuan).dan persatuan 
tidak akan bisa diwujudkan tanpa adanya kepemimpinan; dan kepemimpinan juga 
tidak akan bisa tegak tanpa adanya BAI'AT (dukungan);dan dukungan juga tak akan 
ada artinya kalau tanpa diikuti dengan kepatuhan.


--------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk saudara-saudaraku yang se-aqidah dengan salafushsholih (ahlu sunnah 
waljamaah), bila ada perbedaan dalam hal pemahaman suatu dalil (cabang), 
janganlah merenggangkan persatuan kita, "kesyirikan (menuhankan hawa nafsu, 
menuhankan jin, menuhankan manusia) adalah musuh besar kita"

--------------------------------------------------------------------------------------------------

 
PEMIKIRAN LDII (Islam Jamaah)

 
Maka dilihat dari segi SEJARAH maupun doktrin Islam, "Jamaah" BUKANLAH sebuah 
LEMBAGA atau ORGANISASI atau aliran-aliran yang bersifat sektarian, "Seperti" 
Islam Jamaah (Lemkari/LDII) dan sejenisnya, tetapi yang dimaksudkan "Jami'an 
(QS.3:103) diatas; dan "al Jamaah" adalah persatuan, kesatuan dan keutuhan 
ummat di bawah kepemimpinan seorang khalifah/amirul mukminin"; dimana umat 
islam diwajibkan mentaati dan mematuhi pemimpin jama'ahnya yang telah mereka 
angkat melalui WAKIL-WAKIL mereka dan mereka dukung kepemimpinannya.

 

Jadi yang dimaksud dengan "jamaah" disini adalah dalam KONTEKS NEGARA, bukan 
jamaah dalam arti LEMBAGA atau ORGANISASI atau aliran-aliran yang bersifat 
sektarian.

 

Maka kalau organisasi semacam LDII/Islam Jamaah dan sejenisnya mengklaim bahwa 

HANYA JAMAHNYA YANG BENAR (hanya jamaahnya yang masuk surga, sedang yang 

lain di neraka), adalah bukan hanya keliru tetapi MENYESATKAN.

 
AMIR

Amir lengkapnya Amirul Mukminin mula-mula dikenal dalam sejarah islam adalah 
sejak diangkatnya Umar bin Khattab ra. sebagai kepala negara II menggantikan 
Abu Bakar as-Shidiq ra. lebih dikenal dengan sebutan Khalifah.

 

Jadi sebutan Amirul Mukminin dalam sejarah islam adalah DIPERUNTUKKAN bagi 
pejabat KEPALA NEGARA ISLAM dalam konteks nasional.

 

Sabda Nabi s.a.w.:

Siapa yang taat kepadaku berarti ia taat kepada Allah, siapa yang durhaka 
kepadaku berarti ia durhaka kepada Allah, siapa yang taat kepada amirnya 
berarti taat kepadaku,siapa yang durhaka kepada amirnya berarti ia durhaka 
kepadaku (HR.Bukhari)

 

DOKTRIN-DOKTRIN "LDII"

(LDII : Lembaga Dakwah Islam Indonesia)

 
1. Doktrin AMIR 

Islam Jamaah adalah sebuah aliran yang didirikan oleh H. Nur. Hasan Ubaidah 
Lubis (baca Bab: Riwayat Singkat Islam Jamaah dan Pendirinya).

Islam Jamaah bukan sebuah negara, tapi ia hanyalah suatu organisasi sosial 
keagamaan, walaupun pendirinya/pemimpinnya digelari "AMIR".

Dengan demikian, maka segala perintah Nabi s.a.w. agar umat islam membai'at, 
patuh kepada amirnya TIDAK DAPAT diterapkan kepada "amir"nya aliran LDII

 
Sebutan "amir" dipakai oleh LDII karena berpegang pada sabda Nabi s.a.w. 
berikut:

 
artinya: "Tidak boleh tiga orang yang berada di suatu tempat di muka bumi tanpa 
mengangkat salah seorang sebagai amir." (HR. Ahmad)

 
Tapi menurut Syekh Muhammad Nashirudin Al Bani, (seorang ahli hadits dunia) 
bahwa hadits tersebut diatas adalah riwayatnya dhoif (lemah), maka tidak bisa 
dijadikan sebagai hujah/dalil/pegangan.

 
2. Doktrin BAIAT

Sebenarnya, apabila seseorang telah berikrar menyatakan diri sebagai muslim 
dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, secara otomatis dia telah terikat 
dengan semua hukum islam; meski tanpa mengucap janji setia (BAI'AT). Karenanya, 
tidak ada berita, bahwa seluruh muslim di zaman Nabi s.a.w. melakukan bai'at. 
Dan Nabi s.a.w. sendiri tidak PERNAH MEMERINTAHKAN muslim agar berbai'at 
kepadanya misal: untuk tidak melakukan ini, atau untuk 

tidak mengerjakan itu.

 
Jadi bai'at model LDII ini tidak diperintahkan oleh Islam. Hanya kalau ada 
orang atau orang-orang berbai'at seperti itu kepada seorang imam, maka bai'at 
harus diterima.

 
Perlu diketahui bahwa bai'at yang berarti dukungan adalah ditujukan kepada 
seorang "amir/kepala negara terpilih"yang mana dipilih oleh sebuah lembaga 
negara resmi yakni ulil amri (semacam MPR)

Kesimpulannya, bahwa di zaman Nabi sampai peride sahabat tidak ditemukan adanya 
bai'at, baik dalam arti janji setia pengangkatan maupun dukungan yang ditujukan 
kepada seorang pemimpin organisasi sektarian, yang dipilih dan diangkat oleh 
intern anggotanya-anggotanya.
 
Dari uraian singkat  tentang bai'at, kalau dikaitkan dengan keberadaan aliran 
Islam Jamaah/LDII/lemkari yang mewajibkan umat islam indonesia membaiat 
amirnya; sebagaimana ditegaskan dalam buku resminya LDII, antara lain berjudul 
"Menunda Bai'at Merugikan Diri Sendiri dan Keluarga" yang disusun oleh Drs. Nur 
Hasyim, adalah suatu anjuran/pemaksaan 

yang menyesatkan. Mungkin hal ini akibat kesalahan memahami nash-nash Al-Quran 
dan HADITS tentang bai'at karena tidak dikaitkan dengans ajarah islam, atau 
mungkin ada unsur kesengajaan dari pendiri untuk menyesatkan umat

 
Jadi SISTIM BAI'AT di LDII adalah MENYIMPANG

 
3. Doktrin SANAD

Menurut aliran ini, untuk mempelajari alquran dan hadits harus ditempuh dengan 
jalan ber "sanad". tanpa cara ini ilmu keagamaan dipandang tidak sah. 
Ditanamkan pula kepercayaan dikalangan mereka (anggota LDII), bahwa 
satu-satunya ulama di Indonesia yang memiliki sanad yang mutasil (bersambung 
sampai Rasul-Jibril-Allah) hanyalah pendiri islam Jamaah/LDII yaitu: H. Nur 
Hasan Ubaidillah Lubis Amir.Maka menurut aliran ini, bahwa ilmunya ulama-ulama 
lain 

di indonesia dipandang tidak sah.

H. Nur Hasan Ubaidillah Lubis Amir mengaku bahwa ia dulu berguru kepada seorang 
ulama di mekah yang bernama: Syekh Umar Hamdan, dan syekh ini adalah murid dari 
Sayid aghmad Barzanji, dan Sayid ini murid dari Sayid Ismail Barzanji dan 
seterusnya bersambung (ber "sanad") 

sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w-Jibril-Allah.

Kalau orang mau mencari nama H. Nur Hasan Ubaidah Lubis pendiri Islam 
Jamaah(Lemkari/LDII) dalam sanad seluruh hadits yang ada, maka sudah pasti 
tidak akan menemukan, karena H. Nur Hasan Ubaidah Lubis BUKAN seorang perawi 
hadits. Sebab yang masuk dalam sanad hanyalah para perawi hadits, sedang H. Nur 
Hasan Ubaidah Lubis hanya  seorang "pembaca/pengkaji" hadits.

Dari uraian selintas tenang "sanad" dapatlah disimpulkan bahwa doktrin Islam 
Jamaah tentang "sanad" adalah mengada-ada, karena masalah sanad telah dianggap 
"selesai" setelah seluruh hadits terhimpun dalam kitab-kitab hadits oleh para 
pencatatnya seperti: Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'I, Abu Daud, 
dll. Sedang H. Nur Hasan Ubaidah Lubis sendiri tidak pernah berada dalam 
"sanad" hadits yang manapun yang pernah dihimpun oleh seorang "ahli hadits" di 
zaman kapanpun dan dimanapun.

                                  
4.Doktrin MANQUL

Selain sistim/doktrin sanad, aliran sesat ini (LDII) juga mempunyai sistem 
"manqul". Pengertian "sistem manqul" adalah waku belajar ilmu agama "harus" 
tahu gerak lesan, badan "sang guru"; telinga harus langsung mendengar dari 
"sang guru", belajar dengan terhalang dinding tidak sah, apalagi lewat membaca 
buku. Tidak boleh menyampaikan/ menyebarkan ilmu dari "sang guru" kecuali jika 
telah mendapat Ijazah dari "sang guru".

 
Sistem "manqul ini JELAS BERTENTANGAN  dengan kata Nabi s.a.w.:

Artinya: Semoga Allah mengelokkan rupa orang yang mendengar ucapanku lalu 
menghafalnya dan memeliharanya lalu MENYAMPAIKAN-nya (kepada orang lain) 
sebagaimana apa yang ia dengar. (HR. Syafi'i dan Baihaqi)

Berdasar hadits diatas diketahui, bahwa cara bagaimana atau alat apa dalam 
mempelajari dan menyampaikan (menyebarkan) hadits-hadits itu TIDAK ditentukan. 
Jadi bisa disampaikan dengan lesan, tulisan, radio, televisi, internet, email, 
dll.

 
Bahaya Sistem Manqul!

Ajaran manqul ini akan "mengancam mandeknya" pelbagai kegiatan pengkajian 
ajaran Islam; sebab sistem ini membuat pengikutnya hanya akan terpaku pada 
doktrin. Untuk itu doktrin manqul ini harus DIBERANGUS / diberantas secara 
total.

Tentang Islam Jama'ah

Aliran ini telah sekian kali berganti nama. Seringnya berganti nama itu tidak 
lain disebabkan oleh timbulnya reaksi dari masyarakat dimana aliran ini berada. 
Setiap timbul reaksi, maka pihak yang berwenang pun bertindak dengan melarang 
keberadaan aliran ini. Setelah timbul larangan maka muncullah nama baru.Jadi 
selain Islam Jamaah, nama-nama lainnya adalah: Yayasan Pendidikan Islam Jamaah 
(Y.P.I.D.), Islam Murni, Jamaah Pengajian Hadits, Jamaah Amirul Mukminin, 
Jamaah Quran Hadits, Jamaah al Hidayah, Yayasan Pendidikan Nasional, dan yang 
terakhir sekarang terkenal dengan nama LDII .


Pendiri LDII

H. Nur Hasan Ubaidah Lubis

Lahir pada tahun 1908 di desa Bangi Purwosari Kodya Kediri Jawa Timur, anak 
kedua dari 7 orang, putra H. Abdul Aziz bin H. Tholib bin H. Irsyad. Nama 
kecilnya Muhammad Medigol, setelah menunaikan haji namanya berganti H. 
Nurhasan, setelah haji ke-2 nama berganti al-Ubaidah; dan pengikut-pengikutnya 
menambahkan nama yaitu Lubis artinya "luar biasa".

 
Pendidikan yang pernah ditempuh!

Pondok pesantren Smelo Perak Jombang; Pondok Rejoso Jombang; Pondok Jmasaren 
Solo; yang terakhir Madrasah Darul Hadits Makkah Saudi Arabia. Tetapi umumnya 
pendidikan yang ditempuh TIDAK DAPAT dituntaskan. (lihat R.E. Djumali 
Kertorahardjo: 113)

Ajaran H. Nur Hasan Ubaidah Lubis

Ajaran Islam Jamaah hanya berkisar masalah Keamiran, Bai'at, Jamaah,Sanad, 
Manqul, Infaq, dan beberapa hal tentang ibadah. 
 
Ciri lain dari orang yang beraliran LDII adalah:

Orang selain golongan LDII dianggap najis.

 

sumber: Sekilas Islam Jamaah

Wednesday, March 6, 2013

Jauhilah Sikap Sombong

Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong.
Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)

Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Dosa Pertama Iblis

Sebagian salaf menjelaskan  bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ {34}

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)

Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah)

Hakekat Kesombongan

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)

Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)

Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)

Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut.  Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.

Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan  dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سًلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَّاهُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {56}

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)

Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut.

Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet Daarul Kutub ‘Ilmiyah)

Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا {36}

“Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {65}

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An Nisaa’: 65)

Sombong Terhadap Makhluk

Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195)

Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta’an.

Hukuman Pelaku Sombong di Dunia

Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut ,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut malah menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda, “Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).

Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong.

Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu

Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ.

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang 'tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,

دَرَجَاتٍ الْعِلْمَ أُوتُوا وَالَّذِينَ مِنكُمْ آمَنُوا الَّذِينَ اللَّهُ يَرْفَعِ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat “ (QS. Al Mujadilah: 11).

Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia.  (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)

Tidak Termasuk Kesombongan

Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu’ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195)

Kesombongan yang Paling Buruk

Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak  bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi).  Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (Al Kabaa’ir ma’a Syarh li  Ibni al ‘Utsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub ‘Ilmiyah.)

Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.


Sumber : Artikel www.muslim.or.id

Pos Comment

Artikel Ini dapat di Copy sebanyak yang anda inginkan dan di sebarluaskan Karena Ilmu yang baik adalah yang dapat di amalkan kepada semua Orang

Category

Umum (12) Hadis (4) Shalat (3) Sunnah (3) Akhlak (2) Akidah (2) TV (1)
TvQuran

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in Indonesia